Header Ads

Kajian Rutin GUSDURian Manado; 9 Nilai Utama Gus Dur


Catatan, Diskusi Gusdurian Manado., Pemantik Rahman Mantu. 

Minggu, 15/12. GUSDURian Manado menggelar diskusi tentang pemikiran Gus Dur. Kegiatan ini dihadiri oleh penggerak GUSDURian yang ada di Manado. Seperti biasa, Taufik Bilfagih menjadi pengarah diskusi. Dalam pembukanya, dia coba menjelaskan maksud dari diskusi ini, menurutnya,  diskusi ini merupakan agenda mingguan yang akan dibuat rutin. Kemudian arah dikusi kedepan akan coba fokus pada pemikiran atau nilai-nilai perjuangan Gus Dur atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah 9 Nilai Utama (NU) Gusdur mulai dari nilai ketauhidan hingga nilai kearifan tradisi.  

Kedua. Tentu, agenda diskusi juga bertujuan untuk merawat aktifitas berpengetahuan sebagaimana yang dicontohkan oleh Alm. Gus Dur semasa hidup. 

Diskusi kali ini mengambil tema 9 Nilai Utama Gus Dur, pemantiknya adalah Rahman Mantu, selaku penggerak GUSDURian Sulawesi Utara sekaligus dosen Institut Agama Islam Negeri  (IAIN) Manado. Dia menjelaskan bahwa, 9 nilai Utama Gusdur itu bukanlah istilah yang diciptakan oleh Gusdur sendiri melainkan rumusan para sahabat dan penggemar pikira-pikiran Gus Dur. Diantaranya, Daniel Dhakidae, Dawam Rahardjo dan Mahfud MD serta banyak sahabat dan santri beiau.

Selanjutnya, Maman, nama akrab sang pematik, menjelaskan tentang latar sosio – historis yang ikut membentuk corak pemikiran Gus Dur, hal ini terdengar seperti pelacakan genealogi pemikiran Gus Dur sendiri. Dia menjelaskan bahwa Gus Dur dalam hidupnya pernah mengalami beberapa kali pindah sekolah atau kampus.
Suasana Diskusi
Setelah selesai menimba ilmu di pesantren, Gusdur lalu melanjutkan studinya di Universitas Al – Azhar, Kairo Mesir. Di Mesir, Gusdur tidak menyelesaikan kuliahnya, bukan karena tidak mampu akan tetapi Gusdur merasa bahwa pelajaran yang didapatkan di kelas itu sudah didapatnya sewaktu di Pesantren. 

Itulah kenapa Gusdur jarang sekali berada didalam kelas dan lebih banyak mengahbiskan waktunya membaca buku diperpustakaan, mendengarkan musik dan sekali waktu menonton film di bioskop. Yang menarik dari perjaalan inteltualnya, gusdur pernah simpati dengan pemikiran Hasan Al-bana dan kelompok Ikhwanul Muslimin. Tidak selesai di Mesir  Gusdur kemudian pindah ke Baghdad. Di Baghdad Gusdur menjadi pembaca buku dan penulis yang serius. Terbukti dimana Gudur dalam seminggu bisa menghasilkan kurang lebih 50-an tulisan/artikel. Selanjutnya, pindah sekolah ke Eropa: Jerman lalu Perancis.

Jika dicermati Gusdur mengalami perjalanan intelektual yang cukup kompleks. Baik Indonesia – Timur Tengah – Eropa tentu memiliki tradisi pengetahuan yang berbeda – beda. Dan tentu pengalaman ini ikut membentuk corak pemikiran Gusdur sendiri.

Setelah menjelaskan tentang peta pemikiran gusdur, rahman menjelaskan satu – persatu 9 nilai utama gusdur yaitu : Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Kesatriaan Dan Yang Terakhir Ialah Kearifan Tradisi. Sebelum menutup diskusi, Rahman mengutip pernyataan dari Alisa Wahid bahwa “keseluruhan nilai utama gusdur berpangkal pada nilai ketauhidan dan keadilan. Apabila kita memahami kedua nilai tersebut maka kita akan mampu memahami semua nilai.” 

Zainuddin Pai - Penggerak GUSDURian Manado

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.