Header Ads

Penghina GUSDURian, Hingga Saat Ini Belum Klarifikasi Pernyataannya

GUSDURian Manado | Abrari Ilham, yang diduga melakukan pelecehan terhadap komunitas GUSDURian, hingga saat ini belum mengklarifikasi pernyataannya. Keberadaannya masih ditelusuri. Meski status WA story-nya telah terhapus, namun yang bersangkutan belum bisa dihubungi. Hal ini, membuat GUSDURian Manado bersama lembaga ke-NU-an lainnya membuat pengaduan ke Pimpinan IAIN Manado, tempat ia bekerja sebagai pengajar.

Mardiansyah Usman, Penggerak GUSDURian Manado
Gerah dengan situasi ini, Mardiansyah Usman selaku penggerak GUSDURian Manado kembali membuat statmen melalui akun media sosial miliknya;

"Saya mewakili komunitas Gusdurian Sulut dan ketua LESBUMI NU Sulut dan sebagai Alumni STAIN Manado mempertanyakan kelayakan dari saudara Abrari Ilham sebagai Dosen IAIN Manado. Beberapa bukti dan informasi yang kami terima perihal status2 beliau di Media Sosial yang mengandung ujaran kebencian dan anti moderatisme beragama.

Beberapa waktu yang lalu, Sdr. Abrari Ilham memposting status di media sosial yang menurut kami melecehkan organisasi Nahdhlatul Ulama dan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Peristiwa ini sudah di laporkan  di Fakultas tapi tidak ada tindak lanjut.

Baru-baru ini yang bersangkutan kembali memposting status di Media Sosial yang menyebut Gusdurian sebagai kaum yang JAHIL dan DUNGU..

Info yang kami terima, yang bersangkutan mengajar mata kuliah Studi Agama2 dan Sejarah Peradaban Islam. Apakah layak orang yang anti moderatisme beragama mengajar mata kuliah tersebut ??

Padahal, IAIN Manado setahu kami mengusung Visi-Misi Multikultural.
Bagaimana mungkin Visi-Misi multikulturalisme bisa tercapai jika ada oknum tenaga pengajar yang Anti-Multikulturalisme... "

Hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum ada kabar. Pimpinan IAIN pun telah merespon untuk agenda tabayyun. Meski demikian, beberapa kalangan menilai bahwa yang bersangkutan baiknya tidak lagi mengajar di Kampus yang mengusung isu-isu multikulturalisme, sebab, yang ia lakukan justru menjadi benih-benih radikalisme. Ini sangat beresiko bagi keragaman di Sulawesi Utara. (Adm)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.