Header Ads

Ricklefs: Asing Yang Tak Akan Usang

Almarhum juga penulis dan editor di beberapa jurnal Indonesia. Salah satunya Studia Islamika
Ahli sejarah Indonesia, Merle Calvin Ricklefs, meninggal dunia. Orang yang berjasa serta berdedikasi selama puluhan tahun terhadap Indonesia melalui karya-karya ilmiah yang telah dipublikasi. Sang Profesor ini merupakan Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Perorangan Asing 2016. Wajar. Sebab, menurut Saya, buku-bukunya kaya akan data dari beragam literatur, primer dan sekunder, juga wawancara, sensus dan survei.
Saya sendiri menjadi pembacanya sejak “nyantri” ke KH. Agus Sunyoto. Baik sebelum maupun sesudah menjadi pengurus di Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) yang dinahkodai Sang Kiai. Hampir setiap tulisan dan pemaparan dalam diskusi Kiai, Saya sering mendapatkan beliau mengutip pikiran-pikiran Ricklefs. Akhirnya, Saya mulai menelusuri karya -karya Sang Profesor tentang sejarah Indonesia. Dari sini, Saya pun sempat menjadi pengajar ilmu sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado.
Ricklefs punya cara khas ketika menggambarkan sejarah Indonesia. Dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, ia mengisahkan perjalanan bangsa ini dari zaman ke zaman yang penuh warna, berikut dengan ragam persoalan dan pertikaian baik internal maupun eksternalnya. Buku ini sukses menjelaskan bagaimana aneka komunitas dari berbagai kepulauan Indonesia yang memiliki ragam etnis, bahasa dan dalam negara-negara kerajaan yang terpisah-pisah kuasa bersatu hingga menjadi bangsa modern. Tentu, semua ini didasari oleh penelitiannya pada puluhan jurnal, ratusan buku yang tertuang dalam narasinya.
Buku lain, Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan penentangnya dari 1930 sampai sekarang-pun menurut Saya sangat fenomenal. Ia menarasikan bagaimana Muslim di Jawa melewati masa berat sejak awal penyebaran agama Nabi Muhammad Saw, gambaran situasi penjajahan kolonialisme Belanda dan Jepang, periode kemerdekaan, pemerintahan Presiden Sukarno, totalitarianisme orde baru serta demokrasi kontemporer. Menurut Ricklefs, sejarah Indonesia, utamanya Jawa merupakan sejarah sangat penting bagi dunia. Jawa memainkan peran penting dalam berbagai dinamika Indonesia sejak dari sosial, budaya, agama, ekonomi, dan politik. Argumen ini, begitu kuat dan faktanya demikian.
Penerima gelar PhD dari Cornell University Ini telah mengajar di Sekolah Studi Oriental dan Afrika, All Souls College, Monash University, Australian National University, University of Singapore, University of Melbourne, dan sejumlah universitas lainnya. Ia menerima Centenary Medal pada tahun 2003 yang diberikan pemerintah Australia atas pelayanan kepada masyarakat dan humaniora dalam studi Indonesia. Bagi Saya, ia berhasil membuat pembacanya mengakui bahwa orang asing pun perlu diberikan penghargaan atas karya mereka tentang Indonesia. Baginya, masih begitu banyak aspek kesejarahan yang harus dipelajari, diteliti dan dipublikasi.
Kini, Sang Profesor telah tiada. Ilmu pengetahuannya memang masih hidup. Namun, Kita butuh tambahan informasi lagi tentang Indonesia. Kita haus akan data-data penting dalam dunia sejarah republik ini. Namun, yang piawai dalam mengulas dan membongkarnya, pergi dan tak kembali. Selamat jalan, prof.
Kami berhutang pengetahuan...a

Taufik Bilfaqih (GUSDURian)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.