Header Ads

HAUL GUS DUR KE-10 DI BOLAANG MONGONDOW UTARA: MENELADANI GUS DUR




Sulawesi Utara, Gusdurian.Net - "Dirasa belum ada yang menandingi ketokohan Gus Dur –untuk sekarang- dalam hal : pemikirannya dan pengikut" (Taufik Bilfaqih).

Sebagai Ulama, Presiden ke 4, secara lokus adalah Muslim Jawa, Gus Dur dan pengaruhnya menjadi euforia kegembiraan ke seantero negeri. Tidak pernah sama sekali orang paling Utara Bolaang Mongondow, terutama mereka yang tak pernah hidup di era Gus Dur, mengalami intensitas berbicara sekaligus mematronkan Gus Dur.

Acara Haul Gus Dur yang bertajuk "Meneladani Gus Dur" (27/12) di Kec. Bintauna Kab. Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), yang digagas oleh Komunitas GUSDURian Totabuan, didukung juga oleh Himpunan Pemuda Alkhairat Bolmut, IKA PMII Bolmut dan PC NU Bolmut, menandakan bahwa Gus Dur hidup dalam sanubari di sudut-sudut negeri.

Hadir sebagai pembicara, Taufik Bilfaqih (Penggerak GUSUDURian Sulawsesi) mengulas tentang Gus Dur yang melakukan social transfomation lewat hal-hal tak terduga, seperti humor, Ketua Tanfidzia PC NU Bolmut, Kyai Supriadi Goma yang membahas Gus Dur dan kompleksitasnya, membuat ia sebagai sosok yang tidak terdefinisikan secara baku, juga bagaimana 9 Nilai Utama Gus Dur, dan akademisi Bolmut lulusan Pascasarjana Kebijakan Publik UNSW Australia, Surya Ningrat Datunsolang, khusus mengulas dari sudutnpandang kebijakan publik tentang laku Gus Dur.

Haul Gus Dur yang telah mencapai satu dekade, dimaknai oleh para peserta haul sebagai momentum pembuktian bahwa beragama dengan cara yang arif, dan semangat persaudaraan. Sebab, dikesempatan yang sama hadir beberapa tokoh dari umat Kristiani dan Jemaat Ahmadiyah Bolmut, juga ikut menanggapi Haul Gus Dur tersebut.

Dengan tema meneladani Gus Dur, dimaksudkan agar pemikiran Gus Dur bisa menjembatani perbedaan yang terlampau menjadi sekat, kecurigaan atau bahkan kebencian antar sesama manusia yang berbeda kelompok dengannya.

Gus Dur akhirnya, menjadi sosok yang mencerminkan tujuan agama dan wairsam ajaran para Nabi-nabi sebelumnya.
Ersad Mamonto, penulis adalah GUSDURian Totabuan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.