Header Ads

Tabayyun, Abrari Ilham Minta Maaf Ke Komunitas GUSDURian Manado

Manado | Abrari Ilham, yang sebelumnya diduga menghina GUSDURian dengan menyebut kedunguan dan kejahilan, akhirnya datang tabayyun dan meminta maaf. Ia berkunjung langsung ke markas GUSDURian, Malendeng Manado pada Kamis (02/01).

Suasana diskusi

Dosen IAIN tersebut ditemani Pimpinannya Kepala Prodi di Fakultas Tarbiyah IAIN Manado, Saudara dan teman sekomunitasnya. Kehadiran mereka disambut langsung oleh penggerak GUSDURian Sulawesi Utara, Taufik Bilfaqih bersama Mardiansyah Usman, Rahman Mantu, Linda Setiawati serta dua aktivis PMII, Fahmi dan Farid.

Dalam pertemuan tersebut, Bilfaqih membuka sesi diskusi sembari mempersilahkan Mardiansyah, selaku Ketua Lesbumi NU Sulut, untuk memulai kronologi. Dalam pernyataanya, ia menyampaikan hal-hal pokok berkaitan mengapa akhirnya GUSDURian merespon pernyataan Ilham di story WA-nya.

"Sesungguhnya, apa yang ditulis Ilham itu sangat menyinggung kami sebagai warga NU dan GUSDURian. Menyebut kata jahil dan dungu ini sangat tendensius dan memiliki sentimen organisasi." Singkat kalimat mahasiswa pascasarjana UNIMA tersebut.

Poin lain disampaikan Linda "Saya rasa Mas Ilham sangat tidak etis memilih kalimat tersebut. Kami merasa ini harus diluruskan." Tegasnya.

Sementara itu Rahman, yang juga dosen IAIN menyebutkan, "Pernyataan Pak Abrari ini, baik dari peristiwa hadirnya Prof. Sumanto, hingga sebutan jahil ke komunitas GUSDURian, akan berefek pada stabilitas kerukunan baik di kampus maupun di Kota ini. Sebab, selain menyinggung, pernyataan tersebut membuat nama baik Kampus tergores." Paparnya.

Setelah mendengar penyataan ketiga perwakilan GUSDURian, Ilham diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. "Saya sangat apresiasi karena diberi kesempatan untuk tabayyun. Sesungguhnya ini momen yang tepat, dibanding sekadar mengklarifikasinya di medsos. Sungguh, Saya tidak bermaksud menghina. Saya memilih kata jahil berangkat dari maknanya yaitu ketidak tahuan seseorang. Hal ini, tidak negatif jika dipahami dengan baik. Namun, apapun itu, karena sudah menjadi kegaduhan di ruang publik, Saya bermohon maaf kepada sahabat-sahabat GUSDURian serta pihak-pihak terkait" ujarnya.
Surat Permohonan Maaf, Abrari Ilham

Taufik Bilfaqih mencoba mewarnai diskusi tersebut dengan mengingatkan Ilham, bahwa pernyataan seseorang yang sudah keluar di ruang publik, pastinya akan menimbulkan interpretasi yang beragam. Meski tak bermaksud lain, tetap saja akan dimaknai berbeda. "Kata jahil ini bukan ungkapan yang indah di ruang publik. Tidak perlu gunakan pengertian apapun, tetap saja ini membuat orang lain tersinggung. Kami bersyukur ada i'tikad baik untuk menyelesaikan masalah ini dengan dewasa. Kami berharap tidak terulang lagi. Kritik boleh, menghina jangan. Apapun, kata jahil membuat orang lain terhina." Tutupnya.
Abrari Ilham dan Mardiansyah Usman memegang logo GUSDURian berfoto bersama peserta tabyyun

Pertemuan tersebut diakhiri dengan ramah tamah dan foto bersama. Selanjutnya, GUSDURian menyarankan Abrari Ilham untuk sowan ke Pimpinan IAIN, sebab, masalah ini sudah dilaporkan ke Rektor dan wakil rektor. Apalagi pemberitaannya menjadi viral di nasional. (Adm)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.